Quiet Luxury Versi Indonesia: Ketika Konsumen Urban Beralih dari Logo Mencolok ke Kualitas Abadi
3 mins read

Quiet Luxury Versi Indonesia: Ketika Konsumen Urban Beralih dari Logo Mencolok ke Kualitas Abadi

Fenomena quiet luxury bukan lagi sekadar tren musiman di Indonesia. Gaya berpakaian yang mengutamakan kualitas bahan, potongan bersih, dan warna netral ini telah menjelma menjadi pernyataan identitas bagi konsumen urban yang lelah dengan budaya pamer logo.

Pergeseran Paradigma dari Flexing ke Mindful Consumption

Di kawasan SCBD dan Senopati Jakarta, perubahan ini terasa nyata. Tas dengan monogram raksasa dan kaus berlogo mencolok perlahan tergantikan oleh kemeja linen tanpa merek, jam tangan vintage, dan setelan longgar berbahan katun Jepang. Fenomena ini disebut sebagai quiet luxury atau kemewahan diam.

Berdasarkan data proyeksi pasar kemewahan Asia Tenggara 2025-2026, laporan Bain & Company menunjukkan bahwa 45 persen konsumen kelas atas Indonesia kini lebih memprioritaskan estetika abadi dibandingkan tren musiman. Sementara itu, data Statista Research Department mencatat kenaikan permintaan sebesar 22 persen untuk merek tanpa logo di platform e-commerce premium Indonesia dibandingkan tahun sebelumnya.

Data Penjualan yang Berbicara

Pergeseran ini terkonfirmasi oleh data penjualan. Lazada Indonesia melaporkan penjualan produk premium meningkat tiga kali lipat pada 2026, dengan kategori fesyen mencatat pertumbuhan tertinggi. Penjualan pakaian perempuan khususnya melonjak hingga empat kali lipat.

Head of Business Growth and Operations Lazada Indonesia, Amelia Tediarjo, mengungkapkan bahwa konsumen kini lebih mempertimbangkan nilai jangka panjang. “Daripada beli yang lebih murah tapi sebenarnya harus diganti lebih cepat, mereka mencari barang yang memang lebih mahal tapi value-nya cocok dengan harga yang harus dibayarkan,” jelasnya.

Karakteristik Quiet Luxury Versi Indonesia

Quiet luxury versi Indonesia memiliki karakteristik khas yang membedakannya dari interpretasi global. Konsumen lokal mengutamakan material yang sesuai dengan iklim tropis: katun Jepang, katun tencel, linen, dan semi-wool menjadi favorit karena bahannya adem, jatuh, dan nyaman dipakai seharian.

Palet warna yang mendominasi mencakup hitam, putih, abu-abu, cokelat susu, dan earth tone. Warna-warna ini dipilih karena sifatnya yang fleksibel dan mampu memberikan kesan sederhana namun tetap modis dan elegan.

Mengapa Konsumen Beralih

Ada beberapa faktor pendorong pergeseran ini. Pertama, kelelahan digital atau flexing fatigue—di tengah banjir konten pamer di media sosial, eksklusivitas justru ditemukan dalam sesuatu yang tidak bisa langsung dikenali orang awam.

Kedua, kesadaran akan dampak lingkungan. Gaya ini mendukung sustainable fashion karena mendorong konsumen membeli lebih sedikit namun dengan kualitas terbaik, sehingga lebih ramah lingkungan. Riset McKinsey & Company mengungkapkan sekitar 65 persen konsumen Gen Z dan milenial kini lebih mengutamakan aspek keberlanjutan dan fungsionalitas dalam berbusana.

Ketiga, aspek investasi. Barang yang tidak usang oleh waktu memiliki nilai jual kembali apabila dilakukan perawatan yang tepat, sekaligus menekan pengeluaran untuk tidak boros.

Implikasi bagi Industri Fashion Nasional

Pergeseran ini membawa implikasi signifikan bagi pelaku industri fashion Indonesia. Pengamat mode Lisa Fitria menilai tren global ini justru menguntungkan Indonesia karena konsumen dunia kini lebih tertarik pada produk yang memiliki cerita dan dibuat dengan keterampilan tangan tinggi. “Kekuatan craftsmanship kita, sehingga quiet luxury yang kita sebut slow fashion memiliki potensi besar untuk dikembangkan di Indonesia untuk go global,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *