Sasirangan Pewarna Daun, Ketika Limbah Daun Ketapang Menjadi Warna Eksklusif yang Mendunia
2 mins read

Sasirangan Pewarna Daun, Ketika Limbah Daun Ketapang Menjadi Warna Eksklusif yang Mendunia

Transformasi Sasirangan Menuju Panggung Global

Di sebuah workshop di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Riza Aspihany dengan telaten mencelupkan lembaran kain sasirangan ke dalam larutan berwarna cokelat keemasan. Larutan itu bukan berasal dari bahan kimia sintetis, melainkan dari ekstraksi daun ketapang yang tumbuh subur di sepanjang tepian sungai Kalimantan. Inilah babak baru kain tradisional yang telah diwariskan sejak abad ke-14 tersebut.

Sasirangan, kain khas suku Banjar yang namanya berasal dari kata “menyirang” atau menjelujur, kini bertransformasi. Para pengrajin lokal tidak lagi bergantung pada pewarna sintetis yang mencemari lingkungan. Sebaliknya, mereka memanfaatkan kekayaan alam sekitar. Riza, pemilik D’Daunan Collection, mengungkapkan bahwa penggunaan pewarna alami menjadi alternatif yang lebih aman dibandingkan bahan sintetis.

“Pewarna dari daun seperti ketapang, mangga, dan jati mampu menghasilkan warna yang lembut serta unik. Setiap kain sasirangan yang dihasilkan memiliki corak khas yang berbeda,” ujar Riza dalam acara UMKM Bicara di RRI Pro1 Banjarmasin.

Filosofi di Balik Setiap Helai Kain

Keunikan sasirangan pewarna alami terletak pada ketidakmungkinan replikasi. Proses pewarnaan alami sangat dipengaruhi oleh kondisi bahan serta teknik pengolahan, sehingga tidak ada dua kain yang benar-benar identik. Daun-daunan harus melalui tahap ekstraksi untuk menghasilkan pigmen warna sebelum kain dicelupkan secara bertahap hingga mencapai hasil yang diinginkan.

Kain sasirangan sendiri memiliki motif-motif yang sarat makna filosofis. Motif hirang, misalnya, melambangkan kebijaksanaan dan keteguhan hati. Sementara motif kambang kerbau melambangkan kejantanan dan keberanian. Dengan pewarna alami, motif-motif tersebut tampil lebih organik dan hidup, seolah bercerita tentang hubungan harmonis antara manusia dan alam Kalimantan.

Baca juga: Songgola, Peci dari Eceng Gondok yang Menggabungkan Tradisi dan Teknologi

Peluang Ekonomi di Pasar Internasional

Data dari RRI.co.id menunjukkan bahwa seiring meningkatnya kesadaran konsumen terhadap produk berkelanjutan, pasar internasional mulai melirik sasirangan dengan pewarna alam. Produk ini dianggap lebih eksklusif dan memiliki nilai budaya tinggi.

Peluang ini tidak datang tanpa tantangan. Riza berharap pemerintah daerah dapat memberikan dukungan melalui pelatihan dan promosi agar sasirangan pewarna alami mampu bersaing di pasar global sekaligus membuka peluang ekonomi baru.

Di tengah gelombang fast fashion yang mendominasi pasar, sasirangan pewarna daun menjadi antitesis yang menyegarkan. Ia menawarkan keindahan yang tidak diproduksi massal, cerita yang tidak dapat direplikasi, dan dampak lingkungan yang minimal. Produk ini adalah bukti bahwa kearifan lokal mampu menjawab tantangan zaman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *