Transformasi Digital dan AI Dorong Daya Saing MICE Indonesia di Panggung Global
2 mins read

Transformasi Digital dan AI Dorong Daya Saing MICE Indonesia di Panggung Global

Pemerintah Genjot Transformasi Digital Sektor MICE

Industri Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE) Indonesia tengah memasuki babak baru. Pemerintah tidak lagi hanya mengandalkan promosi destinasi, tetapi juga mendorong transformasi digital secara menyeluruh. Langkah ini tertuang dalam program Pariwisata 5.0 yang menekankan pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI) untuk mendukung terwujudnya Indonesia sebagai pusat MICE global.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa fondasi ekonomi Indonesia cukup kuat untuk mendukung ambisi tersebut. Pada kuartal pertama 2026, ekonomi nasional tumbuh 5,61 persen, sementara sektor akomodasi dan makanan-minuman memimpin dengan pertumbuhan dua digit, yakni 13,14 persen. “Fondasi ini memosisikan Indonesia dengan baik untuk menjadi pusat MICE global, khususnya seiring dengan pergeseran pasar menuju bisnis dan hiburan (bleisure),” ujar Airlangga.

AI sebagai Kunci Daya Saing

Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengungkapkan bahwa penguatan daya saing MICE akan ditempuh melalui harmonisasi kebijakan, pemanfaatan AI, peningkatan kualitas talenta, hingga memperkuat kemampuan memenangkan bidding acara internasional.

Sektor MICE sendiri menyumbang sekitar 30,75 persen dari nilai pasar industri manajemen acara global yang diperkirakan mencapai US$1,2 triliun pada 2024. Artinya, potensi ekonomi yang bisa digarap Indonesia sangat besar. Namun, tanpa adopsi teknologi yang serius, Indonesia berisiko tertinggal dari negara tetangga seperti Singapura dan Thailand yang lebih dulu berinvestasi pada infrastruktur digital MICE.

Bukti Nyata di Lapangan

Transformasi digital bukan sekadar wacana. Pada 2025, Kementerian Pariwisata meluncurkan platform Event by Indonesia yang memusatkan informasi berbagai acara di seluruh negeri. Platform ini didukung aktivasi online-to-offline dan telah membantu menyukseskan 99 acara Karisma Event Nusantara, 46 acara nasional, 29 acara internasional, dan 24 acara MICE. Hasilnya, sektor ini mencatat 12,2 juta pengunjung dengan perputaran ekonomi mencapai Rp23,76 triliun atau setara US$1,4 miliar.

Tantangan yang Tak Bisa Diabaikan

Meski optimisme tinggi, industri MICE Indonesia masih menghadapi tantangan serius. Kebijakan efisiensi anggaran pemerintah sempat memukul industri penyelenggara acara. Laporan Kompas.id pada April 2026 menyebutkan bahwa industri MICE terpaksa memangkas pekerja hingga 70 persen akibat penurunan geliat industri yang dipicu efisiensi anggaran dan lemahnya daya beli masyarakat.

Di sisi lain, pemerintah justru mengincar pajak dari pelaku usaha event organizer. Kebijakan ini menuai kritik karena dianggap kontraproduktif di tengah pemulihan industri.

Peluang di Tengah Tekanan

Terlepas dari tantangan tersebut, momentum pertumbuhan tetap terbuka lebar. Tren bleisure—perjalanan bisnis yang digabung dengan liburan—diperkirakan tumbuh 17 persen secara global, dan Indonesia berada di posisi strategis untuk memanfaatkannya. Integrasi antara kegiatan bisnis dan destinasi wisata unggulan menjadi kunci.

Dengan transformasi digital yang tepat, adopsi AI yang terukur, serta harmonisasi kebijakan yang berpihak pada pelaku industri, Indonesia memiliki peluang nyata untuk tidak sekadar menjadi peserta, tetapi pemain utama di peta MICE global.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *