BGSI dan Fondasi Genomik Nasional: Ketika Indonesia Membaca 400 Ribu Kode Kehidupan
3 mins read

BGSI dan Fondasi Genomik Nasional: Ketika Indonesia Membaca 400 Ribu Kode Kehidupan

Dari Eijkman ke Era Genom: Transformasi Riset Kesehatan Indonesia

Gedung Eijkman di Jakarta Pusat menyimpan sejarah panjang riset kesehatan Indonesia. Di tempat yang pernah melahirkan penelitian peraih Nobel Christiaan Eijkman itu, kini berdiri Balai Besar Biomedis dan Genomika Kesehatan (BB Genomika) yang menjadi jantung program Biomedical and Genome Science Initiative (BGSI). Program ini bukan sekadar proyek riset biasa—ia adalah fondasi bagi masa depan kedokteran presisi Indonesia.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menggambarkan lompatan paradigma yang tengah terjadi. “Dulu ilmuwan berfokus pada patogen. Virus COVID-19 misalnya, hanya memiliki sekitar 30 ribu pasangan basa DNA, sedangkan manusia memiliki 2 miliar pasangan basa,” ujarnya saat menerima kunjungan Putri Mahkota Swedia Victoria di Gedung Eijkman. Pemahaman hingga tingkat DNA inilah yang memungkinkan dokter mengidentifikasi akar masalah genetik dan memperbaikinya secara presisi.

Infrastruktur Data: 4,5 Petabyte Menuju 10 Petabyte

Per September 2026, Indonesia telah mengumpulkan 4,5 petabyte data genomik dan menargetkan peningkatan hingga 10 petabyte dalam waktu dekat. Kapasitas penyimpanan ini menjadi krusial mengingat setiap genom manusia menyimpan informasi setara dengan 3 miliar huruf DNA. Pemerintah juga telah mengumpulkan sekitar 70 juta data kesehatan dari pasien rumah sakit maupun pemeriksaan kesehatan rutin masyarakat.

Perwakilan UNDP Indonesia, Siprianus Bate Soro, menegaskan bahwa kebutuhan penyimpanan data untuk mendukung BGSI mencapai sekitar 10 petabyte, sementara kapasitas yang tersedia saat ini baru sekitar 4,5 petabyte. “Kecepatan pengumpulan data genomik sangat bergantung pada ketersediaan anggaran,” katanya.

20 Ribu Partisipan dan 16 Ribu Whole Genome Sequence

Hingga awal 2026, program BGSI telah merekrut lebih dari 20.000 partisipan dan menghasilkan 16.000 sequence whole genome manusia. Capaian ini bukan sekadar angka riset—melainkan basis data penting untuk menekan pemborosan anggaran kesehatan. Wakil Menteri PPN/Wakil Kepala Bappenas, Febrian Alphyanto Ruddyard, menyoroti kaitan erat antara genomik dan ketahanan fiskal negara. “Jika terapinya tepat, pemborosan biaya pengobatan bisa dihindari,” tegasnya.

Target jangka panjangnya ambisius: 400.000 genom pada 2030. Untuk mencapainya, BGSI telah didukung oleh 10 rumah sakit yang berfungsi sebagai pusat jejaring, serta 29 laboratorium surveilans nasional.

Konsorsium Riset Lintas Sektor: Kolaborasi yang Tak Terhindarkan

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menekankan pentingnya kolaborasi lintas disiplin. “Kita akan membentuk satu konsorsium riset yang melibatkan Kemenkes, peneliti dari perguruan tinggi, maupun dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN),” ujarnya. Riset genomik membutuhkan kerja sama dari biologi, kimia, matematika, kecerdasan artifisial, hingga kedokteran.

BGSI difokuskan pada penyakit prioritas seperti stroke, jantung, dan kanker payudara sebagai pilot project. Dengan memahami profil genetik spesifik populasi Indonesia—yang berbeda dari ras Eropa, Asia Timur, maupun Afrika—diagnosis dan pengobatan dapat dilakukan lebih cepat dan tepat.

Gene Bank: Pusat Penyimpanan Material Genetik Terbesar di Asia Tenggara

Pembangunan Gene Bank Indonesia yang dikerjakan Brantas Abipraya diproyeksikan menjadi pusat penyimpanan dan riset material genetik terbesar di Indonesia serta yang pertama di Asia Tenggara. Proyek tersebut ditargetkan selesai pada 2027. Infrastruktur ini akan menjadi tulang punggung biobank nasional yang menyimpan sampel biologis berstandar internasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *